Peristiwa PEMNULANGAN ATAU PENURUNAN KELAS ATAU TINDAKAN SANGSI adalah juga ujian bagi siapa saja apakah melihat Gontor dengan 'ain el sukhti atau 'ainu el ridha. Bagi anda yang melihat dengan kacamata 'ain el sukhti, maka kesempatan ini akan anda besar-besarkan dan merupakan kesempatan baik untuk menghantam Pondok dan kepimpinannya dan anda akan menunggu lagi kesempatan lain yang serupa. Bahkan mungkin anda juga agak gembira kalau Pondok hancur atau dipimpin oleh orang yang sealiran dengan anda.
Bagi anda yang melihat dengan kacamata 'ain el ridha maka anda dengan segala usaha akan mempertahankan kredibilitas dan wibawa Pondok. Anda akan cuba melindungi Pondok daripada diperlecehkan dan dihina.
Kita lihat sahaja siapa-siapa yang menulis dan memberi komentar tentang peristiwa ini, akan kelihatan dengan kacamata apa mereka memandang Gontor. Dan nanti akan ada peristiwa-peristiwa lain yang serupa yang sedang mereka tunggu-tunggu dan nanti-nantikan. Mereka senantiasa akan menggunakan kesempatan untuk menghantam Pondok dengan segala macam alasan. Atau melindungi Pondok. Kononnya atas nama kebaikan.
Bagi saya itu wajar-wajar saja, karena memang tidak semua orang suka dengan kesuksesan Pondok. Bahkan tidak sedikit yang dalam hati mengatakan Pondok sudah mati dan mundur setelah wafatnya para pendiri Pondok (Trimurti) walaupun kelihatannya membesar. Al fadhlu lil mubtadi wa in ahsanal mubtadi. Itu tidak dapat dimungkiri. Tetapi perlu diingat bahawa Pondok akan terus berkembang dengan segala kekurangan yang ada. Pondok tidak boleh mati. Pondok harus tetap berjasa untuk masyarakat walaupun tidak mungkin sempurna 100%. Pondok perlu dipertahankan, perlu dibina dan diperjuangkan. Siapapun pimpinannya. Pimpinan dipilih Anggota Badan Wakaf dan diberi hak penuh untuk menjalankan tugasnya. Hanya Allah Yang Maha Sempurna.
Para santri dan walimurid juga harus mengingat kembali peristiwa Pondok yang pernah memulangkan seluruh santrinya. Para santri walaupun berstatus Pengurus bukanlah orang yang diistimewakan dan dikecualikan dari melanggar peraturan. Mereka tetap berstatus murid yang kapan saja bisa datang dan pergi. Para santri harus taat pada para Kyai yang seumur hidupnya mengabdikan diri di Pondok tanpa gaji. Murid tidak pernah memberi gaji kepada para Kyai dan para asatidz di Pondok. Murid hanya penumpang sementara di Pondok, mencari ilmu, meminta ilmu dari para Kyai. Jangan disamakan dengan sekolah lain yang guru-gurunya digaji oleh muridnya. Para Kyai berkuasa penuh untuk mendidik dan menasihati serta menindak murid jika melakukan pelanggaran.
Jika anda atau walimurid tidak siap dengan disiplin Pondok yang sedemikian ini, sebaiknya anda jangan masuk Gontor.
Tidak sedikit santri diturunkan kelas walaupun mumtaz gara-gara dianggap melanggar, ada juga yang dipindahkan ke Pondok Cabang, ada juga yang harus mengulang kelas 6 lagi walaupun sudah selesai menjalani setahun kelas 6. Ada juga yang pandai, selesai kelas 6 dan mumtaz, tapi ketika dia meminta syahadah (ijasah), ijasah tersebut dirobek-robek di depan matanya. Semua ini pernah berlaku di zaman Trimurti.
Di Pondok, santri tidak hanya diperlukan otak yang cerdas saja tetapi juga akhlak yang baik. Taat kepada pimpinan sepenuhnya. Percaya kepada Pondok. Semua itu untuk kebaikan dan pendidikan santri. Jika sudah kehilangan kepercayaan terhadap Pondok, maka sebaiknya tidak mengganggu disiplin pondok, dan keluarlah secepatnya dari pondok dengan meninggalkan nama baik. Jika anda masih ada perasaan takabbur, merasa besar, karena sebagai Pengurus, atau karena datang dari luar negeri, atau karena keturunan bangsawan atau berpangkat, atau datang dari ibukota atau kota besar, maka sebaiknya tidak berada di Gontor karena Anda mungkin akan sakit hati dan kecewa.
Begitu juga para alumni yang sudah merasa besar di masyarakat, maka Anda mungkin akan hanya sakit hati saja dengan ulah Gontor karena tidak ikut telunjuk Anda.
Maaf saya ingatkan, karena terlalu banyak para alumni yang sudah menjadi orang besar atau orang yang merasa besar yang lupa diri. Bersyukurlah dengan nikmat yang Anda terima. Janganlah menyombong diri walaupun anda sudah dibesar-besarkan oleh masyarakat anda.
Saya tidak heran kalau antum menjadi orang besar di sekeliling anda karena antum pernah diajar cara berpidato (muhadhoroh), diajar cara mengajar, diajar cara mengurus manusia, diajar cara bergaul, diajar berani, diajar bahasa Inggris, diajar bahasa Arab, diajar mahfudhat, diajar berorganisasi, diajar berekonomi (rihlah iqtishadiyah), diajar hidup sederhana, diajar ukhuwwah Islamiyah, diajar bekerja tanpa gaji, diajar kerja overtime tanpa gaji. Dimarahi, dinasihati, dipermalukan, disanjung, dihormati anak buah (para anggota). Ingatlah itu semua adalah pendidikan.
Yang heran kalau antum tidak memanfaatkan itu semua dan membuangnya jauh-jauh dan antum merasa rugi di Gontor. Subhanallah.
Syukur adalah kunci keberhasilan.